TUGAS
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT JEAN PIAGET
Pengarang : Dr. Paul Suparno
Penerbit : Kansius
Tahun terbit : 2001
Tempat terbit : Yogyakarta
DISUSUN OLEH
Nama : Imelda Waang Sir
Nim : 6151014
Prodi : PGA
M.K : Perkembangan Peserta Didik
Kelas : A
Semester : II
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU AGAMA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TRIBUANA KALABAHI
2014
A. TERJADINYA KOGNITIF DAN PRINSIP DASAR TEORI
PIAGET
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual
yang menyeluruh, yang mencerminkan adnya kekuatan antara fungsi biologi dan
psikologis (perkembangan jia).
Piaget menerangkan intelegensi itu sendiri sebagai adaptasi
biologis terhadap lingkungan, contoh : Manusia tidak mempunyai materi berbulu
lembut untuk melindungi dari dingin ; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk
lari dari hewan pemangsa ; manusia juga tidak mempunyai keahlian untuk memanjat
pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian dan kendaraan
untuk transportasi.
Factor
yang berengaruh dalam perkembangan kognitif, yaitu :
1.
Fisik
Intraksi
antara individu dan dunia luar merupakan sumer pengetahuan tetapi kontak dengan
dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika
intelegasi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.
2.
Kematangan
Kematangan
sistem syaraf menjadi lebih penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat
secara maksimal dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk
perkembangan sedangkan kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi
secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan
tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3.
Pengaruh Sosial
Lingkungan
social termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman dapat muncul atau dapat
menghambat perkembangan struktur kognitif.
4.
Proses Pengaturan Diri yang disebut Ekuilibarasi
Proses
pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur incteraksi spesifik dari individu
dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman social dan perkembangan
jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan
tersusun baik.
ASPEK INTELEGENSI
Menurut
Piaget, intelegensi dapat dilihat dari 3 porspektif berbeda :
1.
Struktur disebut juga Scheme (schemata/schemas).
Struktur dan organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari
meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia
dengan dunia luar, “mencocokkan dunia kedalam mental frame worknya” sendiri.
Struktur kognitif merupakan mental frame work yang dibangun seseorang deengan
mengambil informasi dari lingkungan dan menginterprestasikan, mereorganisasikannya
serta mentransformasikannya (Flawell, Miller dan Miller).
2
hal penting yang harus di ingat tentang membangun struktur kognitif :
a.
Seseorang terlibat secara aktif dalam membangun
proses.
b.
Lingkungan diaman seseorang berinteraksi penting
untuk perkembangan structural.
2.
Isi/ content, yaitu pola tingkah laku spesifk
tidak akan individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena
Piaget kurang tertarik pada apa yang anak-anak ketahui, tetapi lebih tertarik
dengan apa yang mendasar proses berpikir. Piaget melkihat “isi” kurang penting
disbanding dengan struktur dan fungsinya, bila isi adalah “apa” dari
intelegasi, sedangkan “bagaimana” dan “mengapa” di tentukan oleh kognitif atau
intelektual.
3.
Fungsi/ function, yaitu yaitu suatu proses
dimana struktur kognitif di bangun. Semua organisasi hidup yang berinteraksi
dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi dan adaptasi.
Organisasi : cenderung untuk menginteraksi diri dan dunia kedalam suatu bentuk
dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang penuh arti, sebagai suatu cara
untuk mengurangi kompleksitas.
Adaptasi
terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara :
a.
Organisasi memaniplasi dunia luar dengan cara
membuat menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi.
Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar dan mencocokkannya kedalam struktur
yang sudah ada. Contoh : manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya
kedalam komponen nutrisi, makanan yang mereka makan menjadi bagian dari diri
mereka.
b.
Organisasi memodifikasi dirinya sehingga menjadi
lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut akomodasi. Ketika seseorang mengakomodasikan
eksternal, contoh : tubuh tidak hanya mengasumilasi makan tetapi juga
mengakomodasikannya dengan mencekresi cairan lambung untuk menghancurkanya dan
kontraksi lambung mencernanya secara involunter.
c.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem
kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu
tahap ke tahap diatasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang
individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan
seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya dilingkungan. Sesorang
akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan
menggunakan kedua proses penyesuaian diatas.
B. TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN MENURUT PIAGET
1.
Sensorimotor Stage
Masa ketika bayi mempergunakan sistem penginderaan dan
aktifitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi motorik
atas rnasangan-ransangan yang diterimanya dalam bentuk refleks, misalnya
menangis dan lain-lain. Refleks ini kemudian berkembang lagi menjadi gerakan-gerakan
yang lebih canggih, misalnya berjalan (Surnato, 2008:24). Piaget membagi tahap
sesori motor dalam 6 periode.
a.
Refleks (umur 0-1 bulan)
Tingkah
laku bayi kebanyakan bersifat refleks, spontan tidak sengaja, dan tidak
terbedakan. Contoh : refleks menangis, mengisap, menggerakkan tangan dan
kepala, mengisap benda di dekatnya dan lain-lain.
b.
Kebiasaan (umur 1-4 bulan)
Kebiasaan
dibuat dengan mencoba-coba mengualng-ulang suatu tindakan, contoh : seorang
bayi mengembangkan kebiasaan mengisap jari. Awalnya ia tidak dapat menguatkan
tangannya kemulut, lalu pelan-pelan mencoba lalu akhirnya bisa. Setelah itu
menjadi lebih cepat untuk melakukan kembali, maka itu terjadilah kebiasaan
mengisap ibu jari.
c.
Reproduksi kejadian yang menarik (4-8 bulan).
Pada
periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulsi objek apapun yang ada
di sekitarnya. Misalnya, diatas ranjang, seseorang bayi diletakkan mainan yang
akan berbunyi jika talinya dipegang. Suatu saat ia main-main dan menarik tali
itu, ia mendengar bunyi yang bagus dan ia senang. Maka ia akan menarik tali itu
agar muncul bunyi yang sama.
d.
Koordinasi Skemata (8-12).
Seorang
mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya, contoh : seorang bayi di
beri mainan tetapi letaknya jauh. Di dekatnya terdapat tongkat kecil dan dia
akan menggunakannya untuk menggapai mainan tesebut.
e.
Eksperimen (12-18 bulan).
Mulainya
anak mengembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan eksperimen.
Contoh : anak di beri makanan yang ditelatakkan di meja ia akan mencoba menjatuhkan
makanan itu dan memakannya.
f.
Representas (18-24 bulan).
Seorang
anak sudah mulai menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan
fisik dan eksternal tetapi juga dengan koordinasi internal dalam gambarnya.
Misalnya : Lauran mencoba membuka pintu. Ia tidak berhasil karena pintu di
sanggah oleh sebuah kursi di seberangnya. Ia pergi disisi lain dan memindahkan
kursi yang menghambat, padahal ia tidak melihat. Dari kejadian tersebut, tampak
jelas bahwa Lauren dapat mengerti apabila penyebab pintu itu adalah sesuatu
yang berada di belakang pintu tersebut meskipun ia tifak melihat.
Secara
umum dapat di simpulkan tahap sensorimotor menurut Piaget di mulai sejak umur 0
sampai 2 tahun. Pertumbuhan kemampuan anak tanpak dari kegiatan motorik dan persepsinya
yang sederhana, cirri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan dan dilakukan
langkah demi langkah. Kemampuan yang dimiliki antara lain
1.
Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang
berbeda dengan objek disekitarnya
2.
Mencari ransangan melalui sinar lampu dan suara
3.
Suka memperhatikan suatu lebih lama
4.
Mendefinisikan suatu dengan memanupulasinya
5.
Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu
ingin merubah tempatnya.
2.
Preoperational Stage
Cirri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan symbol yang
mewakili suatu konsep. Misalnya, seorang anak yang pernah melihat dokter
berpraktek, akan dapat bermain “dokter-dokteran” (Sunarto, 2008).
Piaget
membagi perkembangan kognitif tahap praoperasional adalah 2 bagian :
a.
Umur 2-4 tahun, di cirikan oleh perkembangan
pemikiran logis Piaget membedakan antara “symbol” dan “tanda” dengan “indeks”
dan sinyal dalam pengertian symbol dan tanda dibedakan antara objek yang
ditandakan dengan tandanya sendiri, misalnya anak bermain pasar-pasaran dengan
uang dari daun, “daun” disini sebagai tanda. Sedangkan “uang” adalah yang
ditandakan, dalam kenyataan daun dan uang tidak sama dalam pengertian “indeks”
dan “sinyal” tidak dibedakan antara tanda dan objek yang ditandakan.
Piaget
juga membedakan natara “simbl” dan “tanda”. Symbol adlah suatu hal yang lebih
menyamai dengn hal yang disimbolkan eperti gambaran dan bayangan. Tanda lebih
merupakan sembarang benda yang digunakan tanpa ada kesamaan dengan yag ditanda.
b.
Umur 4-7 tahun, di cirikan oleh perkembangan
pemikiran intuitif.
Menurut
Piaget (1981) pemikiran anak pada umur 4-7 tahun berkembang pesat secara
bertahap kearah konsp tualisasi ia berkembang ari tahap simbolis dan
prakonseptual ke permukaan operasioal, tetapi perkembangan itu belum sepenuhnya
karena anak masih mengalami operasi yang tidak lengkap dengan suatu bentuk
pemikiran yang semi simbolis atau penalaran intuitif logis. Dalam hal ini
seorang anak masih mengambil keputusan dengan aturan-aturan intuitif yang masih
mirip dengan tahap sensorimotor.
Pemikiran
intuitif adalah persepsi langsung akan dunia luar tetapi tanpa di ajar terlebih
dahulu. Kelemahan pemikiran ini adalah bahwa pemikirannya searah, dimana anak
hanya dapat melihat pluralitas gagasan tetapi hanya satu persatu. Apabila
beberapa gagasan digabungkan pemikiran anak mejadi kacau. Anak pada tahap ini
belum dapat berpikir decentred yaitu melihat berbagai segi dalam suatu
kesatuan.
3.
Concrete Operational Stage
Tahap ini dicerminkan dengan perkembangan sistem yang
didasarkan di tandai dengan adanya sistem operasional berdasarkan apa-apa yang
kelihatan nyata/ konkret. Anak masih menerapkan logika berpikir pada
barang-barang yang konkret, belum besifat abstrak apabila hipotesis.
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mlai
menggunakan atjuranaturn yang jela da logis, dan di tandai aanya refesibel dan
kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya
dengan benda-benda yang bersifat konkret.
4.
Formal Operational Stage
Tahap
terakir dalam perkembangan kognitif menurut iaget.
Pada taha ini mereka sudah dapat berpiir logis, berpikir
dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis
dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang diamati saat itu. Misalnya,
ia dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan seperti : kalau mobil A
lebih mahal dari pada mobil B, sedang mobil C lebih murah dari pada mobil B,
maka ia dapat menyimpulkan bahwa mobil mana yang paling mahal dan mobil mana
yang paling murah.
Keempat
tahapan diatas secara umum memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
a.
Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam
usia bervariasi tetapi urutanya selalu sama. Tidak ada tahapan-tahapan yang di
loncati dan tidak ada urutan yang mundur
b.
Universal (tidak terkait budaya)
c.
Bisa di generalisasikan : representasi dan
logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua
konsep dan isi pengetahuan.
d.
Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang
terorganisasi secara logis
e.
Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan
mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya tetapi lebih terdiferensiasi dan
terintegrasi).
f.
Tahapan merepresentasikan perbedaan secara
kualitatif dalam model berpikir, buka hanya perbedaan kuntitatif.
Pembelajaran
di lakukan dengan memusatkan perhatian kepada :
1.
Berpiir atau proses mental anak, tidak sekedar
pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta
memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat di
pengaruhi oleh perkembangan intelektual anak.
2.
Teori dasar perkembangan kognitif dari Jean
Piaget mewajibkan Guru agar pembelajaran di isi dengan kegiatan interaksi
inderawi antara siswa dengan benda-benda dan fenomena konkrit yang ada
dilingkungan serta dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan kemampuan bepikir, antara
lain kemampuan berpikir konservasi.
3.
Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan
intelektual yang dulalui oleh semua individu tanpa memandang latar konteks
social dan budaya, yang mendalami bagaimana anak berpikir dan berproses yang
berkaitan dengan perkembangan intelektual.
4.
Menurut Piaget, siswa dalam segala usia aktif
terlibta dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka
sendiri
5.
Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus
menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman
baru yang memaksa mereka membangun dan mendevikasi pengetahuan awal mereka.
6.
Piaget menjelaskan bahwa anak kecil memiliki
rasa ingin tahu bawaan dan secara terus-menerus berusaha memahami dunia
sekitarnya. Rasa ingin tahu ini menurut Piaget, memotivasikan mereka untuk
aktif membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati.
7.
Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima
prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda
dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring
bertambahnya usia.
Namun
ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama
mengenai usia ketika aak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.
C. IMPLEMENTASI TEORI PERKEMBANGAN PIAGET
TERHADAP PEMBELAJARAN
Teori piaget membahas kognitif atau intelektual. Dan
perkembangan intelektual erat hubunganya dengan belajar, sehingga perkembangan
intelektual ini dapat dijadikan landasan untuk memahami belajar.
Belajar
dapat di definisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat belajar
di dasari atas 4 konsep dasar, yaitu : skema, asimilasi, akomodasi dan
keseimbangan. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu
tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan
penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan (Willis. 1989)
Implementasi
teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1.
Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan
orang dewasa, oleh karena itu guru mengajarkan dengan menggunakan bahasa yang
sesuai dengan cara berpikir anak.
2.
Anak-anak akan beajar lebih baik apabila dapat
menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat
berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Bahan yang harus dipelajari anak
hendaknya di rasakan baru tetapi tidak asing.
3.
Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahapan
perkembangannya.
4.
Didalam kelas, anak-anak hendaknya di beri
peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya.
Inti dari implementasi teori Piaget
dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
a.
Manfaat pada proses berpikir atau proses mental
anak tidak sekedar pada produknya. Disamping kebenaran jawaban siswa, guru
harus memahami proses yang digunakan anak sehingga pada jawaban tersebut
b.
Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak
yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Dalam kelas Piaget menyajikan materi jadi (Ready Made), tidak
diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan dirinya sendiri
melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
c.
Tidak menekankan pada praktek-praktek yang
diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
d.
Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam
kemajuan perkembangan, teori Peaget mengasumsikan bahwa seluruh anak bekembang
melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan
kecepatan yang berbeda.
D. KRITIK TERHADAP TEORI PIAGET
Berikut
ini adalah beberpa pandangan atau kritik terhadap teori Piaget.
1.
Pada sebuah studi klasik, Mc Garigle dan
Donaison (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konsevarsi dalam
usia yang lebih mudah dari pada usia yang di yakini oleh Piaget
2.
Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu
bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanen pada usia di
atas 6 bulan
3.
Balillargeon dan Devos (1991) ; 104 anak di
amati sampai mereka berusia 18 tahun dan di uji dengan berbagai tugas dengan
berbagai tugas operasinoal formal berdasarkan tugas-tugas yang di pakai Piaget,
termasuk pengujian hipotesu. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai
tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi Mc Garrigle dan
Donaison serta Baillargeon dan Devos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu
meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak
yang lebih tua.
4.
Dan belum lama ini, bradmet (1999) menguji
pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir mas
kank-kanak.






0 comments:
Post a Comment