Sunday, March 16, 2014

chapunkawen

TUGAS
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT JEAN PIAGET

Pengarang                : Dr. Paul Suparno
Penerbit                   : Kansius
Tahun terbit             : 2001
Tempat terbit           : Yogyakarta
 

















DISUSUN OLEH


Nama                    : Imelda Waang Sir
Nim                      : 6151014
Prodi                     : PGA
M.K                      : Perkembangan Peserta Didik
Kelas                    : A
Semester               : II



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU AGAMA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TRIBUANA KALABAHI
2014


A.    TERJADINYA KOGNITIF DAN PRINSIP DASAR TEORI PIAGET
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yang menyeluruh, yang mencerminkan adnya kekuatan antara fungsi biologi dan psikologis (perkembangan jia).
Piaget menerangkan intelegensi itu sendiri sebagai adaptasi biologis terhadap lingkungan, contoh : Manusia tidak mempunyai materi berbulu lembut untuk melindungi dari dingin ; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa ; manusia juga tidak mempunyai keahlian untuk memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian dan kendaraan untuk transportasi.
Factor yang berengaruh dalam perkembangan kognitif, yaitu :
1.      Fisik
Intraksi antara individu dan dunia luar merupakan sumer pengetahuan tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegasi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.
2.      Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi lebih penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimal dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3.      Pengaruh Sosial
Lingkungan social termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman dapat muncul atau dapat menghambat perkembangan struktur kognitif.
4.      Proses Pengaturan Diri yang disebut Ekuilibarasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur incteraksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman social dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.
ASPEK INTELEGENSI
Menurut Piaget, intelegensi dapat dilihat dari 3 porspektif berbeda :
1.      Struktur disebut juga Scheme (schemata/schemas). Struktur dan organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, “mencocokkan dunia kedalam mental frame worknya” sendiri. Struktur kognitif merupakan mental frame work yang dibangun seseorang deengan mengambil informasi dari lingkungan dan menginterprestasikan, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya (Flawell, Miller dan Miller).
2 hal penting yang harus di ingat tentang membangun struktur kognitif :
a.       Seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses.
b.      Lingkungan diaman seseorang berinteraksi penting untuk perkembangan structural.
2.      Isi/ content, yaitu pola tingkah laku spesifk tidak akan individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yang anak-anak ketahui, tetapi lebih tertarik dengan apa yang mendasar proses berpikir. Piaget melkihat “isi” kurang penting disbanding dengan struktur dan fungsinya, bila isi adalah “apa” dari intelegasi, sedangkan “bagaimana” dan “mengapa” di tentukan oleh kognitif atau intelektual.
3.      Fungsi/ function, yaitu yaitu suatu proses dimana struktur kognitif di bangun. Semua organisasi hidup yang berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi dan adaptasi. Organisasi : cenderung untuk menginteraksi diri dan dunia kedalam suatu bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang penuh arti, sebagai suatu cara untuk mengurangi kompleksitas.
Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara :
a.       Organisasi memaniplasi dunia luar dengan cara membuat menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar dan mencocokkannya kedalam struktur yang sudah ada. Contoh : manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya kedalam komponen nutrisi, makanan yang mereka makan menjadi bagian dari diri mereka.
b.      Organisasi memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut akomodasi. Ketika seseorang mengakomodasikan eksternal, contoh : tubuh tidak hanya mengasumilasi makan tetapi juga mengakomodasikannya dengan mencekresi cairan lambung untuk menghancurkanya dan kontraksi lambung mencernanya secara involunter.
c.       Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap diatasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya dilingkungan. Sesorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian diatas.

B.     TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN MENURUT PIAGET
1.      Sensorimotor Stage
Masa ketika bayi mempergunakan sistem penginderaan dan aktifitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi motorik atas rnasangan-ransangan yang diterimanya dalam bentuk refleks, misalnya menangis dan lain-lain. Refleks ini kemudian berkembang lagi menjadi gerakan-gerakan yang lebih canggih, misalnya berjalan (Surnato, 2008:24). Piaget membagi tahap sesori motor dalam 6 periode.
a.       Refleks (umur 0-1 bulan)
Tingkah laku bayi kebanyakan bersifat refleks, spontan tidak sengaja, dan tidak terbedakan. Contoh : refleks menangis, mengisap, menggerakkan tangan dan kepala, mengisap benda di dekatnya dan lain-lain.
b.      Kebiasaan (umur 1-4 bulan)
Kebiasaan dibuat dengan mencoba-coba mengualng-ulang suatu tindakan, contoh : seorang bayi mengembangkan kebiasaan mengisap jari. Awalnya ia tidak dapat menguatkan tangannya kemulut, lalu pelan-pelan mencoba lalu akhirnya bisa. Setelah itu menjadi lebih cepat untuk melakukan kembali, maka itu terjadilah kebiasaan mengisap ibu jari.
c.       Reproduksi kejadian yang menarik (4-8 bulan).
Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulsi objek apapun yang ada di sekitarnya. Misalnya, diatas ranjang, seseorang bayi diletakkan mainan yang akan berbunyi jika talinya dipegang. Suatu saat ia main-main dan menarik tali itu, ia mendengar bunyi yang bagus dan ia senang. Maka ia akan menarik tali itu agar muncul bunyi yang sama.
d.      Koordinasi Skemata (8-12).
Seorang mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya, contoh : seorang bayi di beri mainan tetapi letaknya jauh. Di dekatnya terdapat tongkat kecil dan dia akan menggunakannya untuk menggapai mainan tesebut.
e.       Eksperimen (12-18 bulan).
Mulainya anak mengembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan eksperimen. Contoh : anak di beri makanan yang ditelatakkan di meja ia akan mencoba menjatuhkan makanan itu dan memakannya.
f.       Representas (18-24 bulan).
Seorang anak sudah mulai menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisik dan eksternal tetapi juga dengan koordinasi internal dalam gambarnya. Misalnya : Lauran mencoba membuka pintu. Ia tidak berhasil karena pintu di sanggah oleh sebuah kursi di seberangnya. Ia pergi disisi lain dan memindahkan kursi yang menghambat, padahal ia tidak melihat. Dari kejadian tersebut, tampak jelas bahwa Lauren dapat mengerti apabila penyebab pintu itu adalah sesuatu yang berada di belakang pintu tersebut meskipun ia tifak melihat.
Secara umum dapat di simpulkan tahap sensorimotor menurut Piaget di mulai sejak umur 0 sampai 2 tahun. Pertumbuhan kemampuan anak tanpak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana, cirri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan dan dilakukan langkah demi langkah. Kemampuan yang dimiliki antara lain
1.      Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek disekitarnya
2.      Mencari ransangan melalui sinar lampu dan suara
3.      Suka memperhatikan suatu lebih lama
4.      Mendefinisikan suatu dengan memanupulasinya
5.      Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
2.      Preoperational Stage
Cirri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan symbol yang mewakili suatu konsep. Misalnya, seorang anak yang pernah melihat dokter berpraktek, akan dapat bermain “dokter-dokteran” (Sunarto, 2008).
Piaget membagi perkembangan kognitif tahap praoperasional adalah 2 bagian :
a.       Umur 2-4 tahun, di cirikan oleh perkembangan pemikiran logis Piaget membedakan antara “symbol” dan “tanda” dengan “indeks” dan sinyal dalam pengertian symbol dan tanda dibedakan antara objek yang ditandakan dengan tandanya sendiri, misalnya anak bermain pasar-pasaran dengan uang dari daun, “daun” disini sebagai tanda. Sedangkan “uang” adalah yang ditandakan, dalam kenyataan daun dan uang tidak sama dalam pengertian “indeks” dan “sinyal” tidak dibedakan antara tanda dan objek yang ditandakan.
Piaget juga membedakan natara “simbl” dan “tanda”. Symbol adlah suatu hal yang lebih menyamai dengn hal yang disimbolkan eperti gambaran dan bayangan. Tanda lebih merupakan sembarang benda yang digunakan tanpa ada kesamaan dengan yag ditanda.
b.      Umur 4-7 tahun, di cirikan oleh perkembangan pemikiran intuitif.
Menurut Piaget (1981) pemikiran anak pada umur 4-7 tahun berkembang pesat secara bertahap kearah konsp tualisasi ia berkembang ari tahap simbolis dan prakonseptual ke permukaan operasioal, tetapi perkembangan itu belum sepenuhnya karena anak masih mengalami operasi yang tidak lengkap dengan suatu bentuk pemikiran yang semi simbolis atau penalaran intuitif logis. Dalam hal ini seorang anak masih mengambil keputusan dengan aturan-aturan intuitif yang masih mirip dengan tahap sensorimotor.
Pemikiran intuitif adalah persepsi langsung akan dunia luar tetapi tanpa di ajar terlebih dahulu. Kelemahan pemikiran ini adalah bahwa pemikirannya searah, dimana anak hanya dapat melihat pluralitas gagasan tetapi hanya satu persatu. Apabila beberapa gagasan digabungkan pemikiran anak mejadi kacau. Anak pada tahap ini belum dapat berpikir decentred yaitu melihat berbagai segi dalam suatu kesatuan.
3.      Concrete Operational Stage
Tahap ini dicerminkan dengan perkembangan sistem yang didasarkan di tandai dengan adanya sistem operasional berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/ konkret. Anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkret, belum besifat abstrak apabila hipotesis.
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mlai menggunakan atjuranaturn yang jela da logis, dan di tandai aanya refesibel dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret.
4.      Formal Operational Stage
Tahap terakir dalam perkembangan kognitif menurut iaget.
Pada taha ini mereka sudah dapat berpiir logis, berpikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang diamati saat itu. Misalnya, ia dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan seperti : kalau mobil A lebih mahal dari pada mobil B, sedang mobil C lebih murah dari pada mobil B, maka ia dapat menyimpulkan bahwa mobil mana yang paling mahal dan mobil mana yang paling murah.
Keempat tahapan diatas secara umum memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
a.       Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutanya selalu sama. Tidak ada tahapan-tahapan yang di loncati dan tidak ada urutan yang mundur
b.      Universal (tidak terkait budaya)
c.       Bisa di generalisasikan : representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan.
d.      Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
e.       Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya tetapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi).
f.       Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, buka hanya perbedaan kuntitatif.
Pembelajaran di lakukan dengan memusatkan perhatian kepada :
1.      Berpiir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat di pengaruhi oleh perkembangan intelektual anak.
2.      Teori dasar perkembangan kognitif dari Jean Piaget mewajibkan Guru agar pembelajaran di isi dengan kegiatan interaksi inderawi antara siswa dengan benda-benda dan fenomena konkrit yang ada dilingkungan serta dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan kemampuan bepikir, antara lain kemampuan berpikir konservasi.
3.      Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dulalui oleh semua individu tanpa memandang latar konteks social dan budaya, yang mendalami bagaimana anak berpikir dan berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual.
4.      Menurut Piaget, siswa dalam segala usia aktif terlibta dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri
5.      Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan mendevikasi pengetahuan awal mereka.
6.      Piaget menjelaskan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus-menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu ini menurut Piaget, memotivasikan mereka untuk aktif membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati.
7.      Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring bertambahnya usia.
Namun ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika aak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.

C.    IMPLEMENTASI TEORI PERKEMBANGAN PIAGET TERHADAP PEMBELAJARAN
Teori piaget membahas kognitif atau intelektual. Dan perkembangan intelektual erat hubunganya dengan belajar, sehingga perkembangan intelektual ini dapat dijadikan landasan untuk memahami belajar.
Belajar dapat di definisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat belajar di dasari atas 4 konsep dasar, yaitu : skema, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan (Willis. 1989)
Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1.      Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru mengajarkan dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak.
2.      Anak-anak akan beajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya di rasakan baru tetapi tidak asing.
3.      Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahapan perkembangannya.
4.      Didalam kelas, anak-anak hendaknya di beri peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya.
Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
a.       Manfaat pada proses berpikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Disamping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga pada jawaban tersebut
b.      Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget menyajikan materi jadi (Ready Made), tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
c.       Tidak menekankan pada praktek-praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
d.      Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Peaget mengasumsikan bahwa seluruh anak bekembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.


D.    KRITIK TERHADAP TEORI PIAGET
Berikut ini adalah beberpa pandangan atau kritik terhadap teori Piaget.
1.      Pada sebuah studi klasik, Mc Garigle dan Donaison (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konsevarsi dalam usia yang lebih mudah dari pada usia yang di yakini oleh Piaget
2.      Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanen pada usia di atas 6 bulan
3.      Balillargeon dan Devos (1991) ; 104 anak di amati sampai mereka berusia 18 tahun dan di uji dengan berbagai tugas dengan berbagai tugas operasinoal formal berdasarkan tugas-tugas yang di pakai Piaget, termasuk pengujian hipotesu. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi Mc Garrigle dan Donaison serta Baillargeon dan Devos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak yang lebih tua.
4.      Dan belum lama ini, bradmet (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir mas kank-kanak.





















0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More