BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Penyakit tetanus kebanyakan terdapat
pada anak-anak yang belum pernah mendapatkan imunasi tetanus (DPT). Dan pada
umumnya terdapat pada anak dari keluarga yang belum mengerti pentingnya imunasi
dan pemeliharaan kesehatan, seperti kebersihan lingkungan dan perorangan.
Penyebab penyakit seperti pada tetanus
neonatorum, yaitu Clostridium tetani yang hidup anaerob, berbentuk spora selama
di luar tubuh manusia, tersebut luas di tanah. Juga terdapat di tempat yang
kotor, besi berkarat sampai pada tusuk sate bekas. Basil ini bila kondisinya
baik ( didalam tubuh manusia ) akan mengeluarkan toksin. Toksin ini dapat
menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan tetanospasmi,
yaitu neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.
1.1.1.
Gambaran Kasus
Tetanus adalah salah satu penyakit yang
paling beresiko menyebabkan kematian bayi baru lahir. Tetanus yang menyerang
bayi usia di bawah satu bulan, dikenal dengan istilah tetanus neonatorum yang
disebabkan oleh basil Clostridium Tetani. Penyakit ini menular dan menyebabkan
resiko kematian sangat tinggi. Bisa dikatakan, seratus persen bayi yang lahir
terkena tetanus akan mengalami kematian.
Di negara maju, kasus tetanus jarang
ditemui. Karena penyakit ini terkait erat dengan masalah sanitasi dan
kebersihan selama proses kelahiran. Kasus tetanus memang banyak dijumpai di
sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah.
Lihat saja data organisasi kesehatan dunia (WHO) yang menunjukkan, kematian
akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibandingkan
negara maju.
Dari sejumlah kasus, tetanus pada bayi
baru lahir memiliki angka yang sangat signifikan. Pada umumnya kasus itu,
penggunaan gunting yang kotor dan berkarat oleh para bidan atau dukun bayi saat
memotong tali pusar bayi adalah penyebabnya. Bayangkan, 60 persen persalinan di
Indonesia masih dilakukan oleh dukun bayi yang tidak terlatih.
Tetanus bisa dicegah dengan pemberian
vaksin lewat imunisasi pada perempuan usia subur. Jika pemberian vaksin
dilakukan saat luka tetanus sudah muncul, akan sia-sia. Penyakit lain yang
dapat dicegah dengan imunisasi adalah TBC, Diptheri, Pertusis, Polio, Campak
dan Hepatitis B. Pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT) untuk perempuan usia
subur adalah bentuk dari upaya meminimalkan angka kematian bayi yang disebabkan
tetanus itu.
1.1.2.
Data-data kasus
1.1.3.
Fenomena
Tetanus Neonatorum, penyebab utama
kematian bayi di Indonesia Lantaran mengidap tetanus, sekitar 9,8 persen
dari 184 ribu kelahiran bayi di Indonesia menghadapi kematian. Pada 1980-an,
tetanus bahkan menjadi penyebab pertama kematian bayi di bawah usia satu bulan.
Walau pada 1995 kasus serangan tetanus sudah menurun, tapi ancaman itu tetap
ada, sehingga perlu diatasi secara serius.
Sejak 1989, WHO memang mentargetkan
eliminasi tetanus neonatorum. Sebanyak 104 dari 161 negara berkembang telah
mencapai keberhasilan itu. Tapi, karena tetanus neonatorum masih merupakan
persoalan signifikan di 57 negara berkembang lain, UNICEF, WHO dan UNFPA pada
Desember 1999 setuju mengulur eliminasi hingga 2005. Target eliminasi tetanus
neonatorum adalah satu kasus per seribu kelahiran di masing-masing wilayah dari
setiap negara.
Selain tetanus neonatorum, maternal
tetanus juga ditambahkan sebagai tujuan eliminasi. Hal ini untuk menegaskan,
tetanus bukan hanya mengancam nyawa bayi tapi juga ibu. Karena eliminasi
maternal tetanus tidak didefinisikan, keberhasilan eliminasi tetanus neonatorum
digunakan sebagai gambaran untuk eliminasi tetanus maternal.
Jelas, diperlukan waktu lebih panjang
dan strategi khusus bagi sejumlah negara yang belum bisa mengatasi masalah
tetanus neonatorum. Sejak 1996, di Indonesia telah diberikan vaksin TT terhadap
perempuan usia subur sebanyak tiga kali dosis. Tiga dosis itu akan memberikan
ketahanan selama sepuluh tahun.
Untuk proyek eliminasi tetanus
neonatorum sendiri, Indonesia mendapat bantuan dari sejumlah lembaga donor
seperti JICA (Japan International Cooperation Agency), USAID (US Agency for
International Development) dan KFW (Kreditanstalt Fur Wiederaufbu). Selama
1999-2000, Indonesia mendapat bantuan 22 juta autodisable syringe (alat suntik
sekali pakai) dari lembaga donor itu.
Pemerintah Jepang juga memberikan
bantuan sebesar Rp. 11,2 miliar kepada pemerintah Indonesia untuk mencegah
tetanus neonatorum. Bantuan itu berupa 736.540 vial vaksin tetanus toxoid,
5.891.800 autodisable syringe dan 59 ribu disposable box untuk program
imunisasi TT bagi 2.945.900 perempuan usia subur di 12 provinsi: Sumatera
Utara, Riau, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur,
Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Bali dan Nusa Tenggara
Barat. Pemberian imunisasi TT dilakukan secara gratis, baik di rumah sakit
maupun puskesmas. Jika ditarik bayaran, biasanya hanya merupakan biaya
retribusi rumah sakit atau memang ulah oknum.
Pada Februari 2000, JICA juga
memberikan bantuan logistik berupa 14,5 juta autodisable syringe senilai Rp
15,4 miliar untuk imunisasi campak bagi enam juta anak SD di Jakarta dan Jawa
Barat, serta imunisasi TT kepada delapan juta perempuan usia subur di 22
provinsi. Walau demikian, bantuan itu tentunya hanya sebatas logistik. Dana
operasional tetap harus dikeluarkan pemerintah daerah bersangkutan. Pemerintah
pusatpun tidak mempunyai alokasi dana bantuan untuk itu.
D P T
Walau vaksin seperti DPwT untuk penanggulangan Difteria,
Pertusis, dan Tetanus (DPT) cukup ampuh, tapi masih ada beberapa hambatan dalam
pemberian vaksin ini yaitu efek samping sebagai gejala ikutan setelah pemberian
vaksin DPwT seperti demam, bengkak dan nyeri di sekitar suntikan. Hal ini
disebabkan karena salah satu komponen dari vaksin ini yaitu komponen untuk
pertusis merupakan sel yang utuh.
Pada tahun 1974 di Jepang, vaksin DPwT ini untuk sementara
dihentikan karena adanya beberapa kasus yang menyebabkan kematian. Perkembangan
teknologi yang demikian cepat dan canggih mendorong para ahli untuk terus
berusaha mengembangkan jenis vaksin DPT baru yang sama khasiatnya dengan vaksin
yang telah ada namun tidak menimbulkan efek samping yang merugikan seperti
diatas. Pada awal 1980 para ahli Jepang memperkenalkan vaksin DPT dengan
komponen pertusis asellular (bukan sel utuh) yang bisa mengatasi permasalah
tersebut diatas.
Penggunaan vaksin DPaT secara luas dimulai pada 1994 di
Jerman, dimana GlaxoSmithKline sebagai perusahan farmasi terdepan dalam
penelitian dan pengembangan vaksin yang pertama kali meluncurkan vaksin DPaT
dengan merek dagang Infantrix. Menurut dr. Fransiscus Chandra, Direktur Medikal
GSK , kami menyadari bahwa salah satu faktor penting bagi suksesnya program
imunisasi nasional adalah dengan meningkatkan pengertian orang tua akan
pentingnya vaksinasi DPT dengan pemberian vaksin yang paling memberikan rasa
nyaman atau efek samping yang paling minimal bagi bayi.
Aselular pertusis yang terdapat dalam Infanrix terbentuk
dari tiga komponen, yakni toksoid pertusis, filamentous haemagglutinin (FHA),
dan pertactin (PRN). Selain Aselular pertusis, dalam Infanrix juga terdapat
garam aluminium sebagai adjuvants (penguat), dan 2-phenoxyethanol sebagai
pengawet. Dalam setiap 0,5 ml (1 dosis), vaksin ini terdiri dari >30 IU
toksoid difteri, >40 IU toksoid tetanus, 25 mcg toksoid pertusis, 25 mcg
FHA, dan 8 mcg PRN.
Vaksin DPaT juga sangat bermanfaat untuk anak dengan riwayat
kejang, demam dan kelainan syaraf. Bahkan, jenis vaksin baru ini juga tidak
menyebabkan demam yang dapat memprovokasi terjadinya kejang.
1.2.Tujuan
1.2.1.
Tujuan Umum
Yaitu, agar Mahasiswa/i memahami
tentang “ penyakit tetanus pada anak
1.2.2.
Tujuan Khusus
Yaitu, agar Mahasiswa/i mengetahui dan
memahami tentang :
1.
Definisi tetanus
2.
Etiologi
3.
Tanda dan Gejala
4.
Patofisiologi
5.
Penatalaksanaan Medis
6.
Komplikasi
7.
Pencegahan
8.
Danpak hospitalisasi
9.
Ansuhan Keperawatan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Definisi
Tetanus merupakan penyakit infeksi akut
yang menunjukkan diri dengan gangguan neuromuscular akut berupa trismus,
kekakuan dan kejng otot disebabkan oleh eksotoksin spesifik dari kuman anaerob
clostridium tetani (R. Sjamsuhidayat, 1997).
Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi
yang diakibatkan toksin kuman clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang
otot proksimal diikuti kekakuan otot seluruh badan (Arjatmo, 1996).
Tetanus adalah penyakit toksemia akut
yang disebabkan oleh Cl. Tetani (Mansjoer, 2000).
Tetanus adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh toksin kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan
kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus
otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka.
2.2.Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis tetanus bervariasi dari kekakuan otot setempat,
trismus sampai kejang yang hebat. Masa timbulnya gejala awal tetanus sampai kejang disebut
awitan penyakit, yang berpengaruh terhadap prognostik.
A.
Manifestasi klinis tetanus terdiri atas 4 macam yaitu:
a.
Tetanus local
Tetanus lokal merupakan bentuk penyakit
tetanus yang ringan dengan angka kematian sekitar 1%. Gejalanya meliputi
kekakuan dan spasme yang menetap disertai rasa sakit pada otot disekitar atau
proksimal luka. Tetanus lokal dapat berkembang menjadi tetanus umum.
b.
Tetanus sefal
Bentuk tetanus lokal yang mengenai
wajah dengan masa inkubasi 1-2 hari, yang disebabkan oleh luka pada daerah
kepala atau otitis media kronis. Gejalanya berupa trismus, disfagia, rhisus
sardonikus dan disfungsi nervus kranial. Tetanus sefal jarang terjadi, dapat
berkembang menjadi tetanus umum dan prognosisnya biasanya jelek.
c.
Tetanus umum
Bentuk tetanus yang paling sering
ditemukan. Gejala klinis dapat berupa berupa trismus, iritable, kekakuan leher,
susah menelan, kekakuan dada dan perut (opisthotonus), fleksi-abduksi lengan
serta ekstensi tungkai, rasa sakit dan kecemasan yang hebat serta kejang umum
yang dapat terjadi dengan rangsangan ringan seperti sinar, suara dan sentuhan
dengan kesadaran yang tetap baik.
d.
Tetanus neonatorum
Tanus yang terjadi pada bayi baru
lahir, disebabkan adanya infeksi tali pusat, umumnya karena tehnik pemotongan
tali pusat yang aseptik dan ibu yang tidak mendapat imunisasi yang adekuat.
Gejala yang sering timbul adalah ketidakmampuan untuk menetek, kelemahan,
irritable diikuti oleh kekakuan dan spasme. Posisi tubuh klasik : trismus,
kekakuan pada otot punggung menyebabkan opisthotonus yang berat dengan lordosis
lumbal. Bayi mempertahankan ekstremitas atas fleksi pada siku dengan tangan
mendekap dada, pergelangan tangan fleksi, jari mengepal, ekstremitas bawah
hiperekstensi dengan dorsofleksi pada pergelangan dan fleksi jari-jari kaki.
Kematian biasanya disebabkan henti nafas, hipoksia, pneumonia, kolaps sirkulasi
dan kegagalan jantung paru.
B.
Derajat penyakit tetanus menurut modifikasi dari klasifikasi
Ablett’s :
a.
Derajat I (ringan)
Trismus ringan sampai sedang, kekakuan
umum, spasme tidak ada, disfagia tidak ada atau ringan, tidak ada gangguan
respirasi.
b.
Derajat II (sedang)
Trismus sedang dan kekakuan jelas,
spasme hanya sebentar, takipneu dan disfagia ringan.
c.
Derajat III (berat).
Trismus berat, otot spastis, spasme
spontan, takipneu, apnoeic spell, disfagia berat, takikardia dan peningkatan
aktivitas sistem otonomi
d.
Derajat IV (sangat berat).
Derajat III disertai gangguan otonomik
yang berat meliputi sistem kardiovaskuler, yaitu hipertensi berat dan takikardi
atau hipotensi dan bradikardi, hipertensi berat atau hipotensi berat. Hipotensi
tidak berhubungan dengan sepsis, hipovolemia atau penyebab iatrogenik.
Bila pembagian derajat tetanus terdiri
dari ringan, sedang dan berat, maka derajat tetanus berat meliputi derajat III
dan IV.
2.3.Etiologi
Infeksi tetanus disebabkan oleh clostridium
tetani yang bersifat murni. Kuman ini mudah dikenal karena berbentuk spora dan
karena bentuk yang khas. Ujung sel menyerupai tongkat pemukul genderang atau
rekek squash.
Spora Cl. Tetani dapat bertahan bertahun-tahun bila tidak kena sinar matahari. Spora ini terdapat di tanah atau di debu. Tahan terhadap antiseptic, pemanasan 100 °C, dan bahkan pada otoklaf 120 °C selama 15-20 menit. Dari berbagai study yang berbeda spora ini tidak jarang ditemukan pada feses manusia, juga pada feses kuda, anjing dan kucing. Toksin diproduksi oleh bentuk vegetatifnya.
Spora Cl. Tetani dapat bertahan bertahun-tahun bila tidak kena sinar matahari. Spora ini terdapat di tanah atau di debu. Tahan terhadap antiseptic, pemanasan 100 °C, dan bahkan pada otoklaf 120 °C selama 15-20 menit. Dari berbagai study yang berbeda spora ini tidak jarang ditemukan pada feses manusia, juga pada feses kuda, anjing dan kucing. Toksin diproduksi oleh bentuk vegetatifnya.
Clostiridium tetani adalah kuman yang berbentuk batang
seperti penabuh genderang berspora, golongan gram positif, hidup anaerob. Kuman
ini mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin), yang
mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Timbulnya
teteanus ini terutama oleh clostiridium tetani yang didukung oleh adanya luka
yang dalam dengan perawatan yang salah.
2.4.Patofisiologi
Penyakit tetanus terjadi karena adanya
luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku, pecahan kaca, atau kaleng, luka
tembak, luka bakar, luka yang kototr dan pada bayi dapat melalui tali pusat.
Organisme multipel membentuk 2 toksin yaitu tetanuspasmin yang merupakan toksin
kuat dan atau neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot,
dan mempngaruhi sistem saraf pusat. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai
pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler.
Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat
lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun toksin yang bebas dalam
peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh aritititoksin. Hipotesa cara
absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung
saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke korno anterior susunan
saraf pusat. Kedua, toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam
sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat. Toksin
bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot menjadi kejang dan
mudah sekali terangsang. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10
hari .
Cara kerja toksin
Toksin diabsorbsi pada ujung saraf
motorik dan melalui sumbu limbik masuk ke sirkulasi darah dan masuk ke Susunan
Saraf Pusat (SSP). Toksin bersifak antigen , sangat mudah diikat jaringan
syaraf dan bila dalam keadaan terikat tidak dapat lagi dinetralkan oleh toksin
spesifik. Toksin yang bebas dalam darah sangat mudah dinetrakan oleh antitoksin
spesifik.
2.5.Penatalaksanaan Medis
A.
Pengobatan yang diberikan :
1. Pengobatan spesifik dengan ATS 20.000 U / hari selama 2 hari berturut-turut
secara intramuskular dengan didahului oleh uji kulit dan mata. Bila hasilnya
positif, pemberian dilakukan secara Besredka (pemberian ATS sekarang dapat
dimasukkan di didalam cairan infus dengan dosis 40.000 U sekaligus.
2. Antikonvulsan dan penenang.
3. Diazepam dengan dosis 4 mg / kg BB / hari, dibagi 6 dosis bila perlu IV
dalam 304 dosis secara per-rektal.
4. Penisilin Prokain 50.000 U / kg BB / hari intramuskular diberikan sampai 3
hari demam turun.
5. Diet harus cukup kalori dan protein. Bentuk makanan tergantung kemampuan
anak membuka mulutnya dan menelan. Jika terdapat trismus diberikan makanan cair
melalui sonde lambung. Bila perlu diberikan secara parenteral.
6. Isolasi untuk menghindari rangsngan (suara atau kesibukan).
7. Bila perlu diberikan oksigen dan kadang-kadang diperlukan tindakan
trakiostomi untuk menghindari obstruksi jalan napas.
B.
Pasien dianjurkan dirawat di Unit
Perawatan Khusus jika :
1. Kejang-kejang yang sukar diatasi dngan obat-obatan antikonvulsan biasa.
2. Spasme laring.
3. Komplikasi yang memerlukan perawatan khusus seperti sumbatan jalan napas,
kegagalan pernapasan, hipertensi dan sebagainya.
2.6.Penatalaksanaan Keperawatan
2.6.1.
Pengkajian
·
Pengumpulan Data
Anamnesa
Ø Identitas
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Agama :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Suku/Bangsa :
Tanggal Masuk :
Tanggal Pengkajian :
No Medrek :
Ø Penanggung jawab
Nama :
Usia :
Alamat :
Pekerjaan :
Pendidikan :
Agama :
1.
Keluhan Utama
Adanya luka parah atau luka bakar dan imunisasi
yang tidak adekuat.
2.
Riwayat penyakit sekarang
a)
Riwayat penyakit yang diderita sekarang
tanpa kejang ditanyakan :
1) Apakah disertai demam ?
Dengan mengetahui
ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka diketahui apakah infeksi infeksi
memegang peranan dalam terjadinya bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya
kejang dengan demam..
2) Lama serangan
Seorang ibu yang
anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung lama. Lama bangkitan
kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon terhadap prognosa dan
pengobatan.
3) Pola serangan
·
Perlu diusahakan agar diperoleh
gambaran lengkap mengenai pola serangan apakah bersifat umum, fokal, tonik,
klonik ?
·
Apakah serangan berupa kontraksi
sejenak tanpa hilang kesadaran seperti epilepsi mioklonik ?
·
Apakah serangan berupa tonus otot
hilang sejenak disertai gangguan kesadaran seperti epilepsi akinetik ?
·
Apakah serangan dengan kepala dan tubuh
mengadakan flexi sementara tangan naik sepanjang kepala, seperti pada spasme
infantile ?Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat umum.
4) Frekuensi serangan
Apakah penderita
mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang terjadi untuk pertama kali, dan
berapa frekuensi kejang per tahun. Prognosa makin kurang baik apabila kejang
timbul pertama kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.
5) Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan
Sebelum kejang
perlu ditanyakan adakah rangsangan tertentu yang dapat menimbulkan kejang,
misalnya lapar, lelah, muntah, sakit kepala dan lain-lain. Dimana kejang dimulai
dan bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah penderita
segera sadar, tertidur, kesadaran menurun, ada paralise, dan sebagainya ?
b)
Riwayat penyakit sekarang yang
menyertai kejang :
Apakah muntah,
diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada penderita epilepsi), gagal
ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lain-lain.
3.
Riwayat penyakit dahulu
a) Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah penderita
pernah mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang terjadi untuk
pertama kali ?
b) Apakah ada riwayat trauma kepala, luka tusuk, lukakotor, adanya benda asing
dalam luka yang menyembuh , otitis media, dan cairies gigi, menunjang
berkembang biaknya kuman yang menghasilkan endotoksin.
4.
Riwayat penyakit keluarga
Kebiasaan
perawatan luka dengan menggunakan bahan yang kurang aseptik.
Meninggal
5.
Riwayat Tumbuh Kembang
a) Riwayat Pertumbuhan
b) Riwayat Perkembangan
6.
Riwayat Imunisasi
7.
Riwayat Nutrisi
a) Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi Ditanyakan bagaimana kualitas
dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh klien ?
b) Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak ? Bagaimana selera makan anak
? Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya per hari ?
A.
Pemeriksaan Persistem
Ø Sistem Pernafasan
Dyspneu asfiksia
dan sianosis akibat kontaksi otot pernafasan.
Ø Sistem kardio vaskuler.
Disritmia,
takikardia, hipertensi dan perdarahan, suhu tubuh awal 38-40 C atau febril,
terminal 43-44 C.
Ø Sistem Neurolgis.
(awal)
irritability, kelemahan, (akhir) konvulsi, kelumpuhan satu atau beberapa saraf
otak.
Ø Sistem perkemihan.
Retensi urine
(distensi kandung kencing dan urine out put tidak ada/oliguria)
Ø Sistem pencernaan.
Konstipasi akibat
tidak adanya pergerakan usus.
Ø Sistem integumen dan muskuloskletal.
Nyeri kesemutan
tempat luka, berkeringan (hiperhidrasi). Pada awalnya didahului trismus, spasme
oto muka dengan meningkatnya kontraksi alis mata, risus sardonicus, otot-otot
kaku dan kesulitan menelan. Apabila hal ini berlanjut akan terjadi status
konvulsi dan kejang umum.
Setelah dianalisa
dari data yang ada maka timbul beberapa masalah keperawatan atau masalah
kolaboratif anatara lain:
1. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum
pada trakea dan spame otot pernafasan.
2. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot
pernafasan.
3. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin
(bakterimia).
4. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot
pengunyah.
5. Hubungan interpersonal terganggu berhubungan dengan kesulitan bicara.
6. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kondisi lemah
dan sering kejang.
7. Risiko terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
intake yang kurang dan oliguria.
8. Risiko terjadi cedera berhubungan dengan sering kejang.
9. Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit tetanus dan
penanggulangannya berhbungan dengan kurangnya informasi.
10. Kurangnya kebutuhan istirahat berhubungan dengan seringnya kejang.
Ø
Data penunjang
o
Lab darah : tidak spesifik, mungkin leukositosis ringan,
serum CK agak meningkat.
o Pada pemeriksaaan bakteriologik
ditemukan clostridium tetani.
o Rekam EMG : hilangnya periode diam pada
50-100 ms setelah kontraksi reflek.
Tergantung sarana yang tersedia dimana
pasien dirawat, pemeriksaannya meliputi :
o Darah
Glukosa
Darah : Hipoglikemia merupakan
predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)
BUN
: Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan
merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.
Elektrolit
: K, Na
Ketidakseimbangan
elektrolit merupakan predisposisi kejang
Kalium ( N 3,80 –
5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 –
144 meq/dl )
o Skull Ray : Untuk
mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi
o EEG : Teknik
untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk
mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal.
B.
Diagnos Keperawatan.
1. Kebersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan,
ditandai dengan ronchi, sianosis, dyspneu, batuk tidak efektif disertai dengan
sputum dan atau lendir, hasil pemeriksaan lab, Analisa Gasa Darah abnormal
(Asidosis Respiratorik).
2. Gangguan pola nafas berhubungan dengan
jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan, yang ditandai dengan
kejang rangsanng, kontraksi otot-otot pernafasan, adanya lendir dan sekret yang
menumpuk.
3. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan
efeks toksin (bakterimia) yang dditandai dengan suhu tubuh 38-40 oC,
hiperhidrasi, sel darah putih lebih dari 10.000 /mm3
4. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan kekakuan otot pengunyah yang ditandai dengan intake kurang,
makan dan minuman yang masuk lewat mulut kembali lagi dapat melalui hidung dan
berat badan menurun ddiserta hasil pemeriksaan protein atau albumin kurang dari
3,5 mg%.
C.
Intervensi Dignosa
1. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan, ditandai dengan ronchi,
sianosis, dyspneu, batuk tidak efektif disertai dengan sputum dan atau lendir,
hasil pemeriksaan lab, Analisa Gasa Darah abnormal (Asidosis Respiratorik).
Tujuan :
Jalan nafas efektif
Kriteria :
a. Klien tidak sesak, lendir atau sleam tidak ada.
b. Pernafasan 16-18 kali/menit.
c. Tidak ada pernafasan cuping hidung.
d. Tidak ada tambahan otot pernafasan.
e. Hasil pemeriksaan laboratorium darah Analisa Gas Darah dalam
batas normal (pH= 7,35-7,45 ; PCO2 = 35-45 mmHg, PO2 = 80-100 mmHg)
Intervensi dan Rasional
a. Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi.
Rasional :
Secara anatomi posisi kepala ekstensi
merupakan cara untuk meluruskan rongga pernafasan sehingga proses respiransi
tetap berjalan lancar dengan menyingkirkan pembuntuan jalan nafas.
b. Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara
nafas (adakah ronchi) tiap 2-4 jam sekali.
Rasional :
Ronchi menunjukkan adanya gangguan
pernafasan akibat atas cairan atau sekret yang menutupi sebagian dari saluran
pernafasan sehingga perlu dikeluarkan untuk mengoptimalkan jalan nafas.
c. Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan lendir
dengan melakukan suction.
Rasional :
Suction merupakan tindakan bantuan
untuk mengeluarkan sekret, sehingga mempermudah proses respirasi.
d. Oksigenasi
Rasional :
Pemberian oksigen secara adequat dapat
mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya
hipoksia.
e. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
Rasional :
Dyspneu, sianosis merupakan tanda
terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul
takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.
f. Observasi timbulnya gagal nafas.
Rasional :
Ketidakmampuan tubuh dalam proses
respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu
pernafasan (mekanical ventilation).
g. Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer sekresi(mukolitik).
Rasional :
Obat mukolitik dapat mengencerkan
sekret yang kental sehingga mempermudah pengeluaran dan memcegah kekentalan.
2. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu
akibat spasme otot-otot pernafasan, yang ditandai dengan kejang rangsanng,
kontraksi otot-otot pernafasan, adanya lendir dan sekret yang menumpuk.
Tujuan :
Pola nafas teratur dan normal
Kriteria :
a. Hi. poksemia teratasi, mengalami perbaikan pemenuhan kebutuahn
oksigen.
b. Tidak sesak, pernafasan normal 16-18 kali/menit.
c. Tidak sianosis.
Intervensi dan raasional.
a. Monitor irama pernafasan dan respirati rate.
Rasional :
Indikasi adanya penyimpangan atau
kelaianan dari pernafasan dapat dilihat dari frekuensi, jenis
pernafasan,kemampuan dan irama nafas.
b. Atur posisi luruskan jalan nafas.
Rasional :
Jalan nafas yang longgar dan tidak ada
sumbatan proses respirasi dapat berjalan dengan lancar.
c. Observasi tanda dan gejala sianosis.
Rasional :
Sianosis merupakan salah satu tanda
manifestasi ketidakadekuatan suply O2 pada jaringan tubuh perifer .
d. Oksigenasi
Rasional :
Pemberian oksigen secara adequat dapat
mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya
hipoksia.
e. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
Rasional :
Dyspneu, sianosis merupakan tanda
terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul
takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.
f. Observasi timbulnya gagal nafas.
Rasional :
Ketidakmampuan tubuh dalam proses
respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu
pernafasan (mekanical ventilation).
g. Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah.
Rasional :
Kompensasi tubuh terhadap gangguan
proses difusi dan perfusi jaringan dapat
3. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan
efeks toksin (bakterimia) yang dditandai dengan suhu tubuh 38-40 oC,
hiperhidrasi, sel darah putih lebih dari 10.000 /mm3
Tujuan :
Suhu tubuh normal
Kriteria :
36-37oC, hasil lab sel darah putih
(leukosit) antara 5.000-10.000/mm3
a. Atur suhu lingkungan yang nyaman
Rasional :
Iklim lingkungan dapat mempengaruhi
kondisi dan suhu tubuh individu sebagai suatu proses adaptasi melalui proses
evaporasi dan konveksi.Pantau suhu tubuh tiap 2 jam. Identifikasi perkembangan gejala-gejala
ke arah syok exhaution.
b. Berikan hidrasi atau minum ysng cukup adequate
Rasional :
Cairan-cairan membantu menyegarkan
badan dan merupakan kompresi badan dari dalam.
c. Lakukan tindakan teknik aseptik dan
antiseptik pada perawatan luka.
Rasional :
Perawatan lukan mengeleminasi
kemungkinan toksin yang masih berada disekitar luka.
d. Berikan kompres dingin bila tidak terjadi ekternal
rangsangan kejang.
Rasional :
Kompres dingin merupakan salah satu
cara untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara proses konduksi.
e. Laksanakan program pengobatan antibiotik dan antipieretik.
Rasional :
Obat-obat antibakterial dapat mempunyai
spektrum lluas untuk mengobati bakteria gram positif atau bakteria gram
negatif. Antipieretik bekerja sebagai proses termoregulasi untuk mengantisipasi
panas.
f. Kolaboratif dalam pemeriksaan lab
leukosit.
Rasional :
Hasil pemeriksaan leukosit yang
meningkat lebih dari 10.000 /mm3 mengindikasikan adanya infeksi dan atau untuk
mengikuti perkembangan pengobatan yang diprogramkan.
4. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kekakuan otot pengunyah yang ditandai dengan intake kurang, makan dan minuman
yang masuk lewat mulut kembali lagi dapat melalui hidung dan berat badan
menurun ddiserta hasil pemeriksaan protein atau albumin kurang dari 3,5 mg%.
Tujuan :
kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria :
a. BB optimal
b. Intake adekuat
c. Hasil pemeriksaan albumin 3,5-5 mg %
Intervensi dan rasional :
a. Jelaskan faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam makan dan
pentingnya makanan bagi tubuh.
Rasional :
Dampak dari tetanus adalah adanya
kekakuan dari otot pengunyah sehingga klien mengalami kesulitan menelan dan
kadang timbul refflek balik atau kesedak. Dengan tingkat pengetahuan yang
adequat diharapkan klien dapat berpartsipatif dan kooperatif dalam program
diit.
1. Kolaboratif :
a. Pemberian diit TKTP cair, lunak atau bubur kasar.
Rasional :
Diit yang diberikan sesuai dengan
keadaan klien dari tingkat membuka mulut dan proses mengunyah.
b. Pemberian carian per IV line.
Rasional :
Pemberian cairan perinfus diberikan
pada klien dengan ketidakmampuan mengunyak atau tidak bisa makan lewat mulut
sehingga kebutuhan nutrisi terpenuhi.
c. Pemasangan NGT bila perlu
Rasional :
NGT dapat berfungsi sebagai masuknya
makanan juga untuk memberikan obat.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis dan riwayat
imunisasi:
1.
Adanya riwayat luka
yang terkontaminasi, namun 20% dapat tanpa riwayat luka.
2.
Riwayat tidak
diimunisasi atau imunisasi tidak lengkap.
3.
Trismus, disfagia,
rhisus sardonikus, kekakuan pada leher, punggung, dan otot perut
(opisthotonus), rasa sakit serta kecemasan.
4.
Pada tetanus
neonatorum keluhan awal berupa tidak bisa menetek.
5. Kejang umum episodik dicetusklan dengan
rangsang minimal maupun spontan dimana kesadaran tetap baik.
A. Temuan laboratorium :
o Lekositosis ringan.
o Trombosit sedikit meningkat.
o Glukosa dan kalsium darah normal.
o Cairan serebrospinal normal tetapi
tekanan dapat meningkat.
o Enzim otot serum mungkin meningkat.
o EKG dan EEG biasanya normal.
o Kultur anaerob dan pemeriksaan
mikroskopis nanah yang diambil dari luka dapat membantu, tetapi Clostridium
tetani sulit tumbuh dan batang gram positif berbentuk tongkat penabuh drum
seringnya tidak ditemukan.
o Kreatinin fosfokinase dapat meningkat
karena aktivitas kejang (> 3U/ml)
2.7.Komplikasi
Tetanus
·
Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air didalam
rongga mulut dan keadaan ini memungkinkan terjadinya aspirasi serta dapat
menyebabkan pneumonia aspirasi.
·
Asfiksia
·
Atelektasis karena
obstruksi secret.
·
Fraktur Kompresi.
2.8.Asuhan Keperawatan Anak Dengan Tetanus
2.8.1.
Diagnosa Keperawatan,Tujuan,Kriteria Hasil,dan Rencana
Intervensi Tetanus
2.8.2.
Perencanaan Pemulangan
- Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.
- Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah.
- Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu binatang dan lainnya.
- Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul.
- Ajarkan penggunaan nebulizer.
- Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek samping, waktu pemberian.
- Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress.
- Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas.
- Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Tetanus (rahang terkunci [lockjaw])
adalah penyakit akut, paralitik yang disebabkan oleh tetanospasmin, neurotoksin
yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus adalah penyakit dengan tanda
utama kekakuan otot spasme tanpa disertai gangguan kesadaran. Gambaran penyakit
ini berupa : trismus (kaku pada rahang~sulit membuka rahang bawah), rhesus
sardonicus (muka seperti monyet meringis), kaku kuduk (leher kaku, tidak bisa
untuk mengangguk), opistotonus (badan kaku seperti busur), kaku perut, kejang,
dan kemungkinan adanya luka sebagai tempat masuknya kuman. Penyakit tetanus
biasanya timbul di daerah yang mudah terkontaminasi dengan tanah dan dengan
kebersihan dan perawatan luka yang buruk.
Pengobatannya dengan merawat pasien di ruang yang tenang, kemudian diberikan Anti Tetanus Serum (ATS) sesuai berat badannya secara intravena dan sisanya intramuscular. Kejang diatasi dengan pemberian anti kejang (misal diazepam) secara intravena. Juga diberikan antibiotika. Perawatan pasien ini mungkin melibatkan berbagai bidang kedokteran, misalnya penyakit dalam, bedah, gigi, dan THT.
Pengobatannya dengan merawat pasien di ruang yang tenang, kemudian diberikan Anti Tetanus Serum (ATS) sesuai berat badannya secara intravena dan sisanya intramuscular. Kejang diatasi dengan pemberian anti kejang (misal diazepam) secara intravena. Juga diberikan antibiotika. Perawatan pasien ini mungkin melibatkan berbagai bidang kedokteran, misalnya penyakit dalam, bedah, gigi, dan THT.
3.2
Saran
Jangan sepelekan luka kecil di tubuh
Anda, terutama di bagian kaki atau tangan yang mudah terkena kotoran seperti
debu atau tanah. Luka kecil ini bisa menjadi pemicu tetanus, penyakit yang
sudah jarang terjadi tapi cukup mematikan. Tetanus merupakan penyakit yang
disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri ini akan memproduksi racun yang
menyebabkan kejang otot kronis. Tetanus ini sangat berbahaya tapi mudah diatasi
jika Anda teliti dan bertindak cepat.
Penulis berharap mudah-mudahan makalah
ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya serta buku ini dapat menjadi
referensi untuk pembuatan makalah selanjutnya.






0 comments:
Post a Comment